Pagi ini secara impulsif ku putar lagunya Pidi Baiq, ah sial! perasaan yang dengan susah payah ku pendam kembali muncul ke permukaan. Perasaan yang tidak akan pernah hilang sampai kapanpun, perasaan yang selalu membawaku ke dalam dunia melankolis.
Temanku datang menyapa dengan senyum yang bisa menarik para ratu kecoa dari desa tetangga berkumpul, ia bertanya “lagi apa ndi?”. Pikirku, apakah matanya tertutupi oleh prajurit kecoa? sudah jelas aku sedang diam terbaring dengan pikiran yang berjalan kemana-mana.
Ku minta ia duduk, lalu ku ceritakan kisahku yang selama ini tertahan dalam kerongkongan. Apa respon nya? dia mengejek. Memang benar, harusnya aku jodohkan saja dia dengan ratu kecoa.
Terlepas dari respon temanku yang menyebalkan, rasa ini sungguh adanya. Perasaan yang pertama kali aku rasa dan menetap begitu lekat.
Kenapa waktu terasa berjalan sangat lama? bukankah waktu tidak seperti kaki kecoa yang kecil itu? harusnya waktu bisa bergerak lebih cepat dan membiarkan aku dengannya segera bersama, kan?
Tapi tak apa, sabar tidak kalah indah dari aurora yang tercampur gulali. Aku akan melangkah bersama sabar hingga saat masing masing dari kami selesai dengan diri kami sendiri, dan pantas menyatu dalam ikatan yang diridhai oleh-Nya.
