Aku kembali dari libur yang setidaknya sepanjang penggaris, ku lihat lagi ibu kota, riuh, sibuk, dan sendiri. Semua orang di sini terburu-buru, hilang sudah ketenangan yang sebenarnya tidak sulit mereka dapatkan.
Transportasi umum, tempat makan, lift dan tempat lainnya mereka lewati dengan benda kecil dalam genggamanmnya. Tidak kah ini sesuatu yang menyesakan? setiap momen dari perjalanan yang seharusnya bisa mereka nikmati justru menjadi rutinitas yang membosankan.
Gunakan waktu tunggumu dengan menunggu, kenapa harus melewatinya dengan menonton video singkat dalam layar mu? "Bukankah ada ilmu di dalam nya? kita bisa mendapatkan pengetahuan!" ujar Manjali. Ya, tapi ilmu apa yang bisa kau dapatkan dari 15 detik? Ketika ku tanya, "Kamu tahu dari mana?" akankah kau menjawab "Dari tektok"?
Temanku satu persatu mulai menyadari bahaya hal ini, mereka berpindah menggenggam ilmu. Buku, sebuah sumber yang membawamu tenggelam dalam lautan pengetahuan, tidak lagi mereka membuang waktu dengan siksa dalam genggaman.
Manjali, apakah tubuhmu baik-baik saja? setiap hari kau memakan maja yang merusak, tidak kah kau menyadarinya? lepaskan, tolong buang apa yang menarik rasa syukur darimu.
